Back To Top

Pengantar Ilmu Hukum INDONESIA™

Broken Home dan Cara Mengatasinya

Kebanyakan orang memandang “Broken Home” itu adalah sebuah keluarga yang berantakan  yang disebabkan oleh kedua orangtua yang tidak memposisikan anak dengan masalah yang dihadapi dan tidak memandang dampak baik atau buruknya perkembangan anaknya bahkan terkesan acuh terhadap pergaulan sang anak
“Broken Home” dapat dilihat dari dua sisi yaitu : pertama keluarga yang tidak utuh seperti kedua orang tua yang bercerai, atau salah satu orang tua meninggal. Dan kedua keluarga yang utuh tetapi kedua orang tua tidak sering dirumah, sehingga si anak tidak merasakan kasih saying sebagaimana anak pada umumnya.
1.      Penyebab “Broken Home” terjadi
Perceraian Faktor pertama tidak adanya komitmen dan tujuan suami istri dalam membangun sebuah rumah tangga rumah tangga; faktor kedewasaan yang kurang mampu dalam mengatasi berbagai masalah keluarga juga tidak saling memberi rasa kepercayaan satu dengan yang lainnya, semua yang mencangkup intelektual, dan emosional.
2.      Kurangnya siraman rohani
Mengenai sikap baik, buruknya manusia didunia ibarat bermain film dan Tuhan Yang Maha Esa adalah sutradaranya. Kembali lagi kita yang mengontrol sikap buruk itu, jika mementingkan kehidupan duniawi kita akan jauh dari-Nya.
3.      Sikap kekanak-kanakan orang tua
Egoisme adalah sikap yang dimiliki setiap manusia. Akan tetapi banyak juga yang masih bisa terkontrol. Egois adalah sikap yang mementingkan diri sendiri. Sikap yang lainnya adalah menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
4.      Adanya masalah Latar Belakang
Latar Belakang disini seperti kedudukan atau latar belakang keluarga dari kedua orang tua. Yang jadi permasalahan adalah membeda-bedakan dan mempermasalahkan latar belakang itu sendiri contohnya si A berlatar belakang keluarga yang terpandang dan terhormat sedangkan si B hanya karyawan biasa. Ketika berumah tangga dan memiliki banyak ketidak cocokan latar belakang ini sering kali disebut-sebut.
5.      Tidak memiliki rasa Tanggung jawab
Tidak bertanggung jawabnya orang tua salah satunya masalah kesibukan. Saking sibuknya sampai lupa bahwa ada anak yang menunggu dengan segala cerita dalam pikiiran sianak tersebut.
6.      Kurangnya Komunikasi
Kebanyakan, sebuah keluarga hilangnya keharmonisan dalam membina hubungan suami-istri adalah komunikasi. Faktor yang biasanya sering dianggap penyebab utama adalah kurangnya komunikasi.
7.      Kurangnya pengetahuan dalam Membina
Nah, faktor pengetahuan disini adalah ilmu dalam membina rumah tangga. Apa solusinya? Mungkin menurut saya adalah orang ketiga dalam penengah permasalahan yaitu Ibu atau Bapak, Kakek atau Nenek, dan Paman atau Bibi.
8.      Masalah Perekonomian
Masalah ekonomi adalah masalah internal yang mungkin bisa diselesaikan secara baik-baik. Terlepas dari penghasilan suami yang hanya cukup untuk makan dan rumah untuk berteduh. kalaupun ada lebih mungkin untuk pakaian dan lain-lain. Akan tetapi jika siisteri banyak menuntut suami, sampai sisuami itu tidak tahan terhadap tuntutannya bisa terjadilah perpecahan itu.
Pengaruh keluarga “Broken Home”
1.      Perkembangan Emosi Anak
Menurut Hather Sall (dalam Elida Prayitno 2006 : 96) “Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah dan tubuh”. Perceraian adalah suatu hal yang harus dihindarkan, agar emosi anak tidak menjadi terganggu. Perceraian adalah suatu penderitaan atau pengalaman traumatis bagi anak (Singgih,1995:166). Adapun dampak pandangan kelurga broken home terhadap perkembangan emosi remaja menurut Wilson Madeah (1993 : 42) adalah : Perceraian orang tua membuat terpramen anak terpengaruh, pengaruh yang tampak secara jelas dalam perkembangan emosi itu membuat anak menjadi pemurung, pemalas (menjadi agresif) yang ingin mencari perhatian orang tua / orang lain. Mencari jati diri dalam suasana rumah tangga yang tumpang dan kurang serasi Sedangkan menurut Hetherington (Save M.Degum 1999:197) “Peristiwa perceraian itu menimbulkan ketidak stabilan emosi”. Ketidak berartian pada diri remaja akan mudah timbul jika peristiwa perceraian dialami oleh kedua orang tuanya, sehingga dalam menjalani kehidupan Anak merasa bahwa dirinya adalah pihak yang tidak diharapkan dalam kehidupan ini. (Alex Sobur, 1985:282)
Anak yang kebutuhannya kurang dipenuhi oleh orang tua emosi marahnya akan mudah terpancing. Seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (didalam Elida Priyitno. 2006 : 74) “Hubungan antara kedua orang tua yang kurang harmonis terabaikannya kebutuhan remaja akan menampakkan emosi marah”. Jadi keluarga sangat berpengaruh pada perkembangan emosi Anak karena keluarga yang tidak harmonis menyebabkan dalam diri anak merasa tidak nyaman dan kurang bahagia.
2.      Perkembangan Sosial Anak
Menurut Brim (dalam Elida Prayitno. 2006 : 81) “Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat. Dampak keluarga Broken Home terhadap perkembangan sosial Anak menurut Sunggih D Gunawan 1995 : 108 adalah : Perceraian orang tua menyebabkan tumbuh pograan infenority terhadap kemampaun dan kedudukannya, dia merasa rendah diri menjadi takut untuk meluarkan pergaualannya dengan teman-teman.
Sedangkan willson Nadeeh (1993 : 42) menyatakan bahwa : Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak yang dibesarkan dikeluarga pincang, cendrung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut.
Dan dampak bagi Anak perempuan menurut Hethagton (dalam santrok 1996 : 2000) menyatakan bahwa : Anak perempuan yang tidak mempunyai ayah berprilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.
Jadi keluarga broken home sangat berpengaruh pada perkembangan sosial anak karena dari keluarga anak menampilkan bagaimana cara bergaul dengan teman dan masyarakat.
3.      Perkembangan Kepribadian Anak
Perceraian ternyata memberikan dampak kurang baik terhadap perkembangan kepribadian anak.
Menurut Westima dan Haller (dalam Syamsyu Yusuf 2001 : 99) yaitu bahwa remaja yang orang tuanya bercerai cenderung menunjukkan ciri-ciri :
a. Berpilaku nakal
b. Mengalami depresi
c. Melakukan hubungan seksual secara aktif
d. Kecenderungan pada obat-obat terlarang
Cara mengatasi Broken home
1.      Perbanyak ilmu keagamaan dan siraman Rohani
Dengan mempererat hubungan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya rasa semua akan lancar. Tidak hanya dengan tuhan mempererat tali pertemanan dengan siapapun.
2.      Berpikir dan berprilaku positif
Mungkin memang mudah untuk mengatakan “semua yang terjadi pasti ada hikmahnya dan ambil sisi positifnya” dan sulit untuk di jalankan. Tapi bukankah itu memang benar?!
toh masalah yang kita hadapi adalah proses pembelajaran menuju kedewasaan diri. Semua yang berawal dari yang baik akan menghasilkan kebaikan, berpikir positif dan berprilaku baik pun pasti akan menghasilkan kebaikan tentunya untuk diri kita dan orang disekitar kita.
Nah, jika bersedih ada baiknya mulai untuk berbenah diri, tidak perlu mendengarkan omongan orang lain. Jika kita mementingkan omongan orang lain kita sendiri akan terjebak dengan keadaan dan situasi yang memungkinkan untuk menghakimi diri kita sendiri.
Dengan berusaha, ikhlas, dan berikhtiar jalan keluar akan terbuka dengan sendirinya.
3.      Tempat untuk berbagi
Tuhan memang baik, adakalanya kita sadari itu ketika dalam keterpurukan sehingga kita akan selalu ingat jika kita tidak sendiri di dunia ini. Ada sahabat, teman, atau pacar yang bisa untuk mendengarkan keluh kesah dan memberikan nasehat yang baik terhadap kita.
4.      Mencari Pelarian Yang Positif
Tidak ada salahnya jika kita mencoba hal-hal yang baru, yang positif dong tentunya. Contohnya menjadi pelukis yang keliling kota untuk melukis pemandangan dari tengah kota sampai pelosok-pelosok kota, sehingga membuat otak kita lebih fresh.
Atau melakukan kegiatan yang membuat kita lupa akan permasalahan yang kita hadapi bahkan bisa membuat kita menyelesaikan masalah dengan baik.
Sedih??? Sedih itu manusiawi, tapi apa dengan sedih berkelanjutan semua masalah akan selesai? Tidak tentunya! Memang ada orang yang ingin hidupnya mempunyai keluarga “Broken Home”? sepertinya anak dari keluarga Broken Home pun akan mengatakan “Tidak Ingin” jika itu terjadi. Tetapi, Ada baiknya kita bersikap tenang & bijak untuk menghadapinya.